Sabtu, 04 April 2009
Kasih Ibu Sepanjang Jalan, Kasih Anak Sepanjang Penggalan
" Kasih Ibu kepada beta...tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia "
Penggalan lagu di atas mengingatkan saya ketika kecil dulu, sering sekali saya menyanyikannya. Cinta Ibu tak dapat terbalaskan, mungkin itu kata-kata yang sering kita ucapkan sebagai anak, karena setiap Ibu selalu memberikan kasih sayangnya dengan tulus, pada anak-anaknya, tanpa meminta bayaran, atau balasan dari semua kasih sayang yang telah di berikannya. Namun adakalanya ketika anak-anak sudah besar banyak perbedaan yang menimbulkan pertengkaran pada keduanya. Keinginan-keinginan anak suka berbenturan dengan Orang tua, terutama Ibu. Kadang si Ibu ingin yang A, tapi si anak ingin yang B.
Apa lagi kalau saya lihat kehidupan di Jerman, banyak sekali perbedaan yang mencolok, antara orang tua dan anak, terutama ketika anak-anaknya mulai beranjak dewasa, kebebasan sudah mulai menjadi teman si anak, entah itu dari mulai senang pesta, merokok, dan berpakaian dengan model yang aneh-aneh.
Adakalanya si Ibu suka mungkin merasa anaknya sudah besar, adakalanya tidak. Seperti beberapa waktu lalu saya melihat di TV, ada seorang anak yang tidak di izinkan oleh ibunya untuk bergaul dengan anak-anak jalanan, umur mereka kira-kira 18 tahun, mereka seringnya kumpul-kumpul di tempat-tempat tertentu sambil minum-minuman keras. Tapi karena anak itu tidak terima saat di larang, maka dia pergi meninggalkan rumah orang tuanya. Disinilah sebenarnya peran Orang tua menjadi tidak bermanfaat, karena mereka lebih memilih jalan hidup mereka sendiri dan kesenangan mereka. Sehingga melupakan Orang tuanya, yang telah melahirkan dan membesarkannya.
Seperti susu di balas dengan air tuba, begitulah peribahasa yang sering kita dengar, ketika si anak mulai membangkang dan mulai mengabaikan semua keinginan serta nasehat orang tuanya. Kadang kesalahan tidak melulu pada si anak, kemungkinan besar ada juga pada orang tuanya yang kurang tegas pada si anak dan seringnya si anak di beri kelonggaran, sehingga buat si anak jadi terbiasa. Dan kebiasaan-kebiasaan buruk si anak yang tidak terkontrol, sehingga kebabalasan, yang akhirnya menjadi candu untuk anak itu sendiri. Saya melihat ada beberapa orang Jerman yang merasa berat untuk memiliki anak, sehingga mereka lebih suka memelihara anjing. Mungkin bagi mereka anjing lebih mudah di atur, tidak menyusahkan dan nurut.
Mereka tidak punya tujuan dalam kehidupan ini, maka bagi mereka bila anak akan menyusahkan mereka, mengapa mereka pelihara, tapi ada juga orang Jerman yang punya anak banyak. Sebenarnya bukan anak-anak Jerman saja yang mempunyai karakter keras dan suka membangkang, anak-anak lain juga demikian, mungkin ini tergantung dari peran seorang Ibu di rumah, maka Ibu di katakan oleh Rosulullah sebagai " Sekolah " bagi anak-anaknya, mungkin itu maksudnya, anak-anak akan berakhlaq mulia, bila seorang Ibu baik dalam mendidiknya.
Teman saya pernah bercerita, suatu hari temannya di kunjungi oleh Ibunya untuk membantu dia (temannya), yang baru saja melahirkan. Dan teman saya benar-benar sangat sedih, melihat perlakuan temannya itu terhadap ibunya, kata-katanya agak kasar dan kurang sopan, saya yang mendengar cerita itu, langsung teringat akan Ibu saya. Karena saat ini saya pun jadi seorang ibu dari 3 anak, saya ingin anak-anak saya berbakti pada kedua orang tuanya. Saya sendiri merasa belum sempat membalas kebaikan Ibu saya, yang sudah melahirkan saya ke dunia ini dan membesarkan saya. Beliau tidak bimbang ketika saya menikah dengan orang yang belum sama sekali beliau kenal, bahkan beliau mengikhlaskan ketika saya harus pergi jauh meninggalkan beliau.
Betapa besarnya pengorbanan seorang Ibu, ketika melahirkan anaknya, Ibu berani mempertaruhkan nyawanya, dan dia rela membesarka anak-anaknya, dengan mengenyampingkan keinginannya, ibu menjaga anak-anaknya dengan penuh kasih sayang agar tumbuh dengan baik. Ketika anak-anaknya sudah besar, hanya Air mata saja yang sering menetes di pipinya, ketika si anak mulai melawan dan berkata kurang sopan, namun doanya tak pernah terputus, hingga kini. Doa yang senantiasa di panjatkannya demi untuk kebahagiaan anak-anaknya, serta kesuksesannya yang akan membawa keberkahan pada anak-anaknya, kadang anaknya mengklaim bahwa semua kesuksesan yang di dapat adalah hasil dari usahanya sendiri. Adakah kita sadar tanpa doa dari beliau belum tentu kesuksesan menghampiri kita.
Ketika si anak mulai merasa, si Ibu mengganggu dalam rumah tangganya, maka dia pergi pindah menjauh dari rumah Orang tuanya, apa yang sudah di berikan oleh Ibunya sebagai bekal, sudah tidak berguna lagi, karena si anak sudah menjadi orang sukses, adakah Ibu meminta bagian dari hasil kesuksesan anak-anaknya, tidak....
Saya pernah menyaksikan langsung, seorang ibu yang pikun akibat dari kelakuan jahat anak lelakinya, yang menjual rumahnya tanpa permisi oleh ibunya, padahal rumah itu adalah warisan dari suaminya yang telah pergi meninggalkannya lebih dulu. Apa yang di kerjakan oleh ibu yang sudah pikun itu sangat menyedihkan, karena kebiasaan si ibu menyapu halaman rumahnya setiap pagi, maka sering sekali ibu itu hilang dan di temukan sedang menyapu di tempat-tempat pembuangan sampah. Sungguh menyedihkan bukan. Inilah satu contoh kasih anak yang hanya sepanjang penggalan ( galah ).
Namun kasih Ibu tak pernah terhenti, walaupun dera sakit yang di buat oleh si anak, serta kekecewaan yang di dapat.
Itulah Kasih Ibu yang Indah dan tak terbalaskan, apa yang kita berikan tidak seberapa, dari apa yang sudah beliau berikan sejak kita masih dalam kandungan.
Tidak kah kita merasakan hal itu saat ini....?, ketika kita sudah berumah tangga. Melahirkan dan membesarkan anak-anak kita seorang diri, tanpa bantuan dari siapa pun, adakah di benak kita untuk membalas semua yang telah di berikan oleh ibu kita...?.
Syurga ada di telapak kaki Ibu, itu bukan hanya kiasan, tapi kenyataan, kebanyak kan mereka yang sukses dalam bekerja dan berumah tangga, adalah hasil dari keikhlasan dan Do´a seorang Ibu.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al Ahqaaf 46 :15
”Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun, ia berdo’a : ”Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal shaleh yang Engkau ridhai, dan berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (QS. Al Ahqaaf 46 :15).
Dan diperjelas, dalam sabda Rasulullah SAW, dari Abu Hurairah r.a ;
”Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW, ”Ya, Rasulullah, siapakah dari keluargaku yang paling berhak dengan kebaktianku yang terbaik ?,
jawab beliau, ”Ibumu !, dia bertanya, kemudian siapa ?
Rasulullah menjawab, “Ibumu !, dia bertanya, kemudian siapa ?
Rasulullah menjawab, “Ibumu !, dia bertanya, kemudian siapa ?
Rasulullah menjawab, “Bapakmu !
Maka bila kita ingin menggapai keridahoan dari Allah SWT, cintailah Orang tua kita, agar beliau senantiasa meridhoi kita dalam semua pekerjaan yang kita lakukan.
Sabda Rosululloh SAW : " Ridho ALLAH tergantung kepada keridhoan orang tua dan murka ALLAH tergantung kepada kemurkaan orang tua" (HR Bukhori, Ibnu Hibban)
Wallahu´alam bishawab.
Heidenheim, 16 Februari 2009
(Teruntuk saudari2 ku yang sudah jadi Ibu dan yang mempunyai Ibu)
Cara Membersihkan Karat Dengan Soft Drink
Alat dan Bahan
Minuman bersoda (soft drink) dalam satu gelas ukuran tinggi, alat yang berkarat (misalnya alat pembuka botol dan mur), dan wadah.
Cara Kerja
- Cara pertama: Rendam terlebih dahulu kain di dalam segelas soft drink selama satu jam.
- Setelah itu gosokkan kain pada bagian yang berkarat.
- Cara kedua: Rendam alat berkarat yang terbuat dari besi itu di dalam wadah dengan soft drink selama satu jam.
- Langkah terakhir, usai direndam selama satu jam angkat alat yang berkarat itu dari dalam wadah lalu bersihkan dengan kain.
- Lihatlah serpihan karat di alat pembuka botol telah rontok. Untuk membuatnya berfungsi kembali gosoklah alat pembuka botol yang telah dibersihkan tersebut dengan menggunakan lap.
Tingkat keasaman atau PH rata-rata dari soft drink adalah 3,4. Ini sangat tinggi. Artinya tingkat keasaman ini cukup kuat untuk melarutkan gigi dan tulang! Karat pada alat dan kotoran pada keramik saja bisa ‘rontok’ oleh asam dan segala bahan campuran yang ada pada soft drink, apalagi gigi dan organ pencernaan dalam tubuh manusia. Maa syaa Allah, sungguh mengerikan!
Tahukah Anda bahwa tubuh kita berhenti menumbuhkan tulang pada usia sekitar 30 tahun?! Setelah itu setiap tahunnya tulang akan larut melalui urine tergantung dari tingkat keasaman makanan yang masuk ke dalam tubuh kita. ‘Larutan tulang’ itu berkumpul di dalam arteri, urat nadi, kulit, urat daging, dan organ. Hal tersebut akan mempengaruhi fungsi ginjal dalam membantu pembentukan batu ginjal.
Apakah Anda pernah mencoba menaruh gigi patah di dalam botol soft drink? Subhanallah, dalam sepuluh hari gigi tersebut dapat melarut dalam cairan tersebut! Tentunya Anda dapat membayangkan, jika gigi yang keras saja bisa melarut maka apakah yang akan terjadi dengan usus dan lapisan perut kita yang halus jika kita terus-menerus meminum soft drink! Soft drink memiliki kandungan gula yang tinggi, bersifat asam, dan mengandung banyak zat aditif seperti pengawet dan pewarna.
Banyak orang yang menyenangi makan didampingi minuman soft drink yang dingin. Anda juga termasuk yang demikian? Simaklah penjelasan berikut ini:
Tubuh kita mempunyai suhu optimum 37°C agar enzim pencernaan dapat berfungsi, sedangkan suhu soft drink dingin jauh di bawah 37°C, terkadang mendekati 0°C. Akibatnya, enzim tidak bekerja dengan baik dan memberi beban berlebih pada sistem pencernaan kita. Malahan makanan yang sudah bercampur dengan soft drink akan menjadi seperti ‘difermentasi’. Akibatnya, makanan tadi akan menghasilkan bau, gas, sisa busuk, dan racun yang diserap oleh usus lalu diedarkan oleh darah ke selruh tubuh. Penyebaran racun ini menyebabkan berbagai macam penyakit. Apa kiranya yang mungkin terjadi apabila setiap hari kita meminum soft drink dingin seusai makan? Rusaklah sudah pencernaan kita!
Tahukah Anda?
Soft drink juga dapat menghilangkan noda lemak pada pakaian. Caranya tuangkan segelas soft drink pada pakaian yang bernoda lemak, tambahkan deterjen, diamkan selama 10 menit, setelah itu kucek pelan-pelan. Kegunaan lainnya adalah membersihkan kabut pada kaca depan mobil. Subhanallah!
Di Universitas Delhi pernah diselenggarakan sebuah kompetisi meminum soft drink. Akhirnya kompetisi dimenangkan oleh seorang mahasiswa yang berhasil menenggak 8 botol soft drink! Tapi dia tidak dapat menikmati kemenangannya itu karena dia meninggal seketika! Apa penyebabnya? Dia mengalami kelebihan karbondioksida dalam darah dam kekurangan oksigen akibat meminum soft drink. Bagaimana, apakah Anda masih berminat meminum soft drink setiap hari?
Sumber: Majalah Iptek Anak “ORBIT”, No. 07 Tahun IX, hlm. 6-7.(dengan pengubahan bahasa seperlunya dari redaksi
Selasa, 17 Februari 2009
.......
ia berkata Rasulullah shalallohu alaihi wa sallam bersabda :
”Shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah Sholat Isya’ dan Sholat Shubuh. Seandainya mereka itu mengetahui pahala kedua sholat tersebut, pasti mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Sungguh betapa ingin rasanya aku memerintahkan orang-orang untuk shalat kemudian aku memerintahkan seseorang untuk mengimami mereka. Lalu aku pergi bersama beberapa orang laki-laki dengan membawa kayu bakar menjumpai orang-orang yang tidak menghadiri shalat berjama'ah, lalu aku bakar mereka bersama rumah-rumah mereka dengan api’," (HR Bukhari [644] dan Muslim [651] [252]).
Ikhwan GANTENG, Partner Sejati Akhwat?
Alangkah indahnya Islam. Kedudukan manusia dinilai dari ketaqwaannya, bukan dari gendernya. Ini adalah strata terbuka sehingga siapa saja berpeluang untuk memasuki strata taqwa.
Ikhwan dan akhwat adalah dua makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berbeda. Ikhwan, sebagaimana ia, memang diciptakan lebih dominan rasionalitasnya karena iaadalah pemimpin bagi kaum hawa. Akhwat, sebagaimana ia, memang diciptakan lebih dominan sensitivitas perasaannya karena ia akan menjadi ibu dari anak-anaknya.
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
(QS. 9: 71)
Di lapangan, ikhwan dan akhwat harus menjaga hijab satu sama lain, namun tentu bukan berarti harus memutuskan hubungan, karena dalam da’wah, ikhwan dan akhwat adalah seperti satu bangunan yang kokoh, yang sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain.
Belakangan ini menjadi sebuah fenomena baru di berbagai Lembaga Campus tentang sedikit ‘konfrontasi’
ikhwan dengan akhwat. Tepatnya, tentang kurang cepat tanggapnya da’wah para ikhwan yang notabene adalah partner da’wah dari akhwat.
Patut menjadi catatan, mengapa jumlah akhwat selalu lebih banyak dari ikhwan. Walau belum ada penelitian, tetapi bila melihat data kader, pun data massa dimana jumlah akhwat selalu dua sampai tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan ikhwan, maka dapat diindikasikan bahwa ghirah, militansi dan keagresifan berda’wah akhwat, lebih unggul. Meski memang hidayah itu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun tentu kita tak dapat mengabaikan proses ikhtiar. Akhwat Militan, Perkasa dan Mandiri?
Sejak kapankah adanya istilah Akhwat militan, perkasa dan mandiri ini? Berdasarkan dialog-dialog yang penulis telaah di lapangan, dan di beberapa Lembaga, ternyata hampir semua akhwat memiliki permasalahan yang sama, yaitu tentang kurang cepat tanggapnya ikhwan dalam menghadapi tribulasi da’wah. Bahkan ada sebuah rohis yang memang secara turun temurun, kader-kader akhwatnya terbiasa mandiri dan militan. Mengapa? Karena sebagian besar ikhwan dianggap kurang bisa diandalkan. Dan ada pula sebuah masjid kampus di Indonesia yang hampir semua agenda da’wahnya digerakkan oleh para akhwat. Entah hilang kemanakah para ikhwan.
Akibat seringnya menghadapi ikhwan semacam ini, yang mungkin karena sangat gemasnya, penulis pernah
mendengar doa seorang akhwat, “Ya Allah…, semoga nanti kalau punya suami, jangan yang seperti itu… (tidak cepat tanggap–red),” ujarnya sedih. Nah!
Ikhwan GANTENG
Lantas bagaimanakah seharusnya ikhwan selaku partner da’wah akhwat? Setidaknya ada tujuh point yang patut kita jadikan catatan dan tanamkan dalam kaderisasi pembinaan, yaitu GANTENG (Gesit, Atensi, No reason, Tanggap, Empati, Nahkoda, Gentle). Beberapa kisah tentang ikhwan yang tidak GANTENG, akan dipaparkan pula di bawah ini.
1. (G) Gesit dalam da’wah
Da’wah selalu berubah dan membutuhkan kegesitan atau gerak cepat dari para aktivisnya. Ada sebuah kisah tentang poin ini. Dua orang akhwat menyampaikan pesan kepada si fulan agar memanggil ikhwan B dari masjid untuk rapat mendesak. Sudah bisa ditebak…, tunggu punya tunggu…, ikhwan B tak kunjung keluar dari masjid. Para akhwat menjadi gemas dan menyampaikan pesan lagi agar si fulan memanggil ikhwan C saja. Mengapa? Karena ikhwan C ini memang dikenal gesit dalam berda’wah. Benar saja, tak sampai 30 detik, ikhwan C segera keluar dari masjid dan menemui para akhwat. Mobilitas yang tinggi.
2. (A) Atensi pada jundi
Perhatian di sini adalah perhatian ukhuwah secara umum. Contoh kisah bahwa ikhwan kurang dalam atensi adalah ketika ada rombongan ikhwan dan akhwat sedang melakukan perjalanan bersama dengan berjalan kaki. Para ikhwan berjalan di depan dengan tanpa melihat keadaan akhwat sedikitpun, hingga mereka menghilang di tikungan jalan. Para akhwat kelimpungan.., nih ikhwan pada kemana? “Duh.., ikhwan ngga’ liat-liat ke belakang apa ya?” Ternyata para ikhwan berjalan jauh di depan, meninggalkan para akhwat yang sudah kelelahan.
3. (N) No reason, demi menolong
Kerap kali, para akhwat meminta bantuan ikhwan karena ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh akhwat. Tidak banyak beralasan dalam menolong adalah poin ketiga yang harus dimiliki oleh aktivis. Contoh kisah kurangnya sifat menolong adalah saat ada acara buka puasa bersama anak yatim. Panitia sibuk mempersiapkannya. Untuk divisi akhwat, membantu antar departemen dan antar sie adalah hal yang sudah seharusnya dilakukan. Para akhwat ini kemudian meminta tolong seorang ikhwan untuk memasang spanduk. “Afwan ya…, amanah ane di panitia kan cuma mindahin karpet ini…,” jawab sang ikhwan sambil berlalu begitu saja karena menganggap tugas itu bukanlah amanahnya.
4. (T) Tanggap dengan masalah
Permasalahan da’wah di lapangan semakin kompleks, sehingga membutuhkan aktivis yang tanggap dan bisa membaca situasi. Sebuah kisah, adanya muslimah yang akan murtad akibat kristenisasi di sebuah kampus. Aktivis akhwat yang mengetahui hal ini,menceritakannya pada seorang ikhwan yang ternyata adalah qiyadahnya. Sang ikhwan ini dengan tanggap segera merespon dan menghubungi ikhwan yang lainnya untuk melakukan tindakan pencegahan pemurtadan. Kisah di atas, tentu contoh ikhwan yang tanggap. Lain halnya dengan kisah ini. Di sebuah perjalanan, para akhwat memiliki hajat untuk mengunjungi sebuah lokasi. Mereka kemudian menyampaikannya kepada ikhwan yang notabene adalah sang qiyadah. Sambil mengangguk-angguk, sang ikhwan menjawab, “Mmmm….” “Lho… terus gimana?Kok cuma “mmmmm”…” tanya para akhwat bingung. Sama sekali tidak ada reaksi dari sang ikhwan.
“Aduh… gimana sih….” Para akhwat menjadi senewen.
5. (E) Empati
Merasakan apa yang dirasakan oleh jundi. Kegelisahan para akhwat ini seringkali tercermin dari wajah, dan lebih jelas lagi adalah dari kata-kata. Maka sebaiknya para ikhwan ini mampu menangkap kegelisahan jundi-jundinya dan segera memberikan solusi. Contoh kisah tentang kurang empatinya ikhwan adalah dalam sebuah perjalanan luar kota dengan menaiki bis. Saat telah tiba di tempat, ikhwan-akhwat yang berjumlah lima belas orang ini segera turun dari bis. Dan bis itu melaju kembali. Para akhwat sesaat saling berpandangan karena baru menyadari bahwa mereka kekurangan satu personel akhwat, alias, tertinggal di bis! Sontak saja para akhwat ini dengan panik, berlari dan mengejar bis. Tetapi tidak demikian halnya dengan ikhwan, mereka hanya berdiri di tempat dan dengan tenang berkata, “Nanti juga balik lagi akhwatnya.”
6. (N) Nahkoda yang handal
Laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita. Ia adalah nahkoda kapal. Lantas bagaimanakah bila sang nahkoda tak bergerak? Alkisah, tentang baru terbentuknya kepengurusan rohis. Tunggu punya tunggu…, hari berganti hari, minggu berganti minggu, ternyata para ikhwan yang notanebe adalah para ketua departemen, tak kunjung menghubungi akhwat. Akhirnya, karena sudah “gatal” ingin segera gerak cepat beraksi dalam da’wah, para akhwat berinisiatif untuk “menggedor” ikhwan, menghubungi dan menanyakan kapan akan diadakan rapat
rutin koordinasi.
7. (G) Gentle
Bersikap jantan atau gentle, sudah seharusnya dimiliki oleh kaum Adam, apatah lagi aktivis. Tentu sebagai Jundullah (Tentara Allah) keberaniannya adalah di atas rata-rata manusia pada umumnya. Namun tidak tercermin demikian pada kisah ini. Sebuah kisah perjalanan rihlah. Rombongan ikhwan dan akhwat ada dalam satu bis. Ikhwan di depan dan akhwat di belakang. Beberapa akhwat sudah setengah mengantuk dalam perjalanan. Tiba-tiba bis berhenti dan mengeluarkan asap. Para ikhwan segera berhamburan keluar dari bis. Tinggallah para akhwat di dalam bis yang kelimpungan. “Ada apa nih?” tanya para akhwat. Saat para akhwat menyadari adanya asap, barulah mereka ikut berhamburan keluar. “Kok ikhwan ninggalin gitu aja…” ujar seorang akhwat dengan kecewa.
Penutup
Fenomena ketidak-GANTENG-an ikhwan ini, akan dapat berpengaruh pada kinerja da’wah. Ikhwan dan akhwat adalah partner da’wah yang senantiasa harus saling berkoordinasi. Masing-masing ikhwan dan akhwat memang mempunyai kesibukannya sendiri, namun ikhwan dilebihkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu sebagai pemimpin. Sehingga wajar saja bila yang dipimpin terkadang mengandalkan dan mengharapkan sang qawwam ini bisa jauh lebih gesit dalam berda’wah (G), perhatian kepada jundinya (A), tidak banyak alasan dalam menolong (N), tanggap dalam masalah (T), empati pada jundi (E), menjadi nahkoda yang handal (N) dan mampu memberikan perlindungan (G). Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Kaum laki-laki adalah pemimpin (qawwam) bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita)..." (QS. An-Nisa':34).
Kita harapkan, semoga semakin banyak lagi ikhwan-ikhwan GANTENG yang menjadi qiyadah sekaligus
partner akhwat. Senantiasa berkoordinasi. Ukhuwah di dunia, dan di akhirat. Amiin. []
Kamis, 05 Februari 2009
INSTROPEKSI DIRI
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Hari berganti hari, berganti hari, tanpa kita sadari semakin dekat diri ini dengan kematian, Umur yang semula kita mengira panjang, tanpa kita sadari, beriring waktu semakin berkurang.
Berapa banyak orang yang telah hidup sebelum kita, namun sekarang mereka hanya tinggal tulang belulang yang sudah hancur dimakan tanah, Kita akan menyusul mereka wahai saudaraku, kita adalah kepastian yang akan berakhir seperti mereka, kita adalah kematian yang hanya menunggu waktu, ketika waktu itu sampai tidak seorangpun diantara kita yang mampu menolaknya.
Saudaraku,
Berapa banyak manusia diantara kita yang merasa ketakutan ketika kematian menghampirinya. Keringat dingin bercucuran, seluruh tubuh mengigil kesakitan. Air mata bersimbah karna merasa belum siap menghadap Allah. Karna merasa belum siap untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan maksiat yang pernah dilakukan.
Apakah kita nantinya akan seperti mereka???
Berapa banyak manusia yang ketika hidup di muka bumi, mereka terlena dengan kenikmatan dunia? Mereka lupa akan tujuan hidup mereka, bahkan mereka sombong atas pemberian Allah yang hanya titipan sementara untuk mereka,
Saudaraku apalah artinya senyum sesaat, seandainya harus ditebus dengan tangisan seumur hidup?
Saudaraku, kemaren telah berlalu, hari ini juga akan berakhir, dan esok juga akan sirna. Sungguh tak ada kepastian dalam kehidupan ini, kepastian dalam kehidupan hanyalah perubahan, selagi kita masih hidup, maka rubahlah diri anda, atau kematian yang akan merubah kehidupan anda.
Ketika pertama kali kita dilahirkan dimuka bumi ini, semua orang disekitar kita tersenyum, semua orang tertawa dan bahagia, terutama kedua orang tua kita,
Namun usahakanlah ketika kita akan meninggalkan dunia ini, semua orang menangis, dengan tangis keridhoan, namun kita tetap tersenyum bahagia, karna kita akan berjumpa dengan kekasih hati yang selalu mencintai kita, yaitu Allah SWT.
Saudaraku, di kehidupan yang Cuma mampir sebentar ini, di kehidupan yang Cuma sementara ini, tentunya kita tidak ingin gagal dikehidupan yang Cuma sekali ini, tentunya kita ingin pulang dengan selamat dikampung halaman kita yaitu akhirat, tentunya kita ingin pulang dalam keadaan bersih menghadap Allah yang maha suci, tentunya kita ingin menghadap Allah dalam keadaan pasrah dan terlepas dari semua dosa-dosa.
Saudaraku
Semoga Allah SWT mempertemukan kita dalam jalan yang sama di jannahnya bersama dengan para syuhada dan para Nabinya.
Selasa, 13 Januari 2009
Bangkitlah Mahasiswa!
Mahasiswa boleh merasa berbangga dengan predikat-predikat yang dilekatkan kepada mereka. Agent of change, penerus bangsa, reformator atau predikat lainnya. Mereka juga boleh berbangga dengan berbagai penelitian mereka, dengan teori-teori dan metode ilmiah yang mereka pelajari, banyak permasalahan yang terselesaikan. Mereka juga boleh berbangga karena ditengah masyarakat mahasiswa dikenal sebagai sosok-sosok nan cerdas, ilmiah, kritis serta berani.
Mahasiswa yang di daulat sebagai Agent Of Change, mereka pun cukup peka terhadap isu-isu krusial. Mereka cepat tanggap memberi respon terhadap gejolak-gejolak sosial. Dalam sekejap mereka berubah menjadi manusia-manusia yang super kritis yang tidak berhenti bertanya ‘mengapa begini?’, ‘mengapa begitu?’, ‘padahal khan seharusnya begini…’, ‘padahal khan nyatanya begitu…’
Namun ironisnya melihat fakta di sekitar kita, dalam perkara agama, mahasiswa seolah kehilangan tajinya. Tatkala mereka di ajari pak kyai dzikir-dzikir aneh, mereka patuh saja. Tatkala pak haji mengajari cara shalat yang (ternyata) salah, mereka hanya bisa manut saja. Ketika ada pak ustadz mengajarkan amalan-amalan bid’ah, mereka ikut saja. Sewaktu ada ‘murobbi’ yang gemar memberi fatwa serampangan, mereka pun hanya bisa mengamini. Tatkala ada aktifis partai berlabel Islam yang menggiring mereka ke jalan untuk berteriak-teriak dan membuat macet jalan, mereka pun berbaris teratur mematuhinya. Kemana sifat cerdas, kritis, ilmiah dan berani di dada mereka? Tidak adalagi pertanyaan ‘mengapa begini?’, ‘mengapa begitu?’, ‘apa dasarnya? ‘, ’apa dalilnya? ’
Islam adalah agama yang ilmiah
Allah Ta’ala berfirman:
ولا تقف ما ليس لك به علم إن السمع والبصر والفؤاد كل أولئك كان عنه مسئولا
Artinya: “Janganlah engkau mengikuti apa yang tidak kamu ketahui . Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya akan dimintai pertanggungjawaban” [Al Isra: 36]
Dalam Tafsir As Sa’di dijelaskan maksud ayat ini: “Janganlah engkau mengikuti apa yang tidak kamu ilmui, namun seharusnya tatsabbut (cek dan ricek) dalam setiap perkataan dan perbuatanmu ” [Tafsir As Sa’di]. Subhanallah, bukankah ini metodologi ilmiah? Ketika seseorang menyatakan sebuah statement ilmiah dalam forum ilmiah, tentu dia akan dipertanyakan adakah penelitian yang mendukung statement tersebut? Teori apakah yang mendasari statement tersebut? Jangan asal bicara! Kira-kira demikian. Maka demikian juga dalam beragama yang benar, harus memiliki dasar, memiliki landasan teori, yaitu ilmu syar’I yang berasal dari Al Qur’an dan As Sunnah. Jika seseorang yang berbicara serampangan tanpa dasar ilmiah dalam perkara duniawi saja akan dimintai pertanggungjawaban, maka tentu berbicara atau berbuat serampangan tanpa dasar dalam masalah agama lebih besar pertanggungjawabannya.
Kemudian apa yang terjadi jika seorang mahasiswa fakultas Matematika yang membuat penelitian dengan mengambil beberapa teori dari seorang ahli sastra terkemuka?? Jelas tidak relevan dan penelitiannya layak untuk ditolak. Atau ia mengambil teori dari seorang doktor di bidang Matematika namun terkena kasus pemalsuan thesis?? Maka penelitian tersebut pun akan diragukan. Lihatlah, dalam metodologi ilmiah ternyata memperhatikan sumber pengambilan referensi. Semakin kompeten sumber referensi yang diambil, akan semakin bermutu penelitian yang dibuat.
Demikian juga dalam beragama, metode(manhaj) beragama yang paling benar dan lurus adalah yang merujuk pada orang-orang paling mengetahui dan ahli dalam agama ini. Orang yang berada di urutan teratas adalah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, karena beliaulah manusia yang paling tahu tentang agama yang dibawanya. Setelahnya adalah para sahabat radhiallahu’anhum ajma’in, seperti Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar Bin Khattab,Utsman Bin Affan dan yang lain. Karena merekalah yang mengambil ilmu langsung dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan ajaran yang dibawa beliau. Urutan selanjutnya adalah para tabi’in, seperti Hasan Al Bashri, Sufyan Ats Tsauri, Abdullah bin Mubarok, Sa’id bin Musayyab, dan yang lain. Karena mereka yang mengambil ilmu langsung dari para sahabat. Dan selanjutnya adalah jalannya orang-orang yang mengikuti mereka seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnu Qoyyim Al Jauziyyah, Imam Asy Syafi’I, Imam Ahmad bin Hambal, dan yang lain. Demikianlah, hal ini berdasar hadits :
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ
Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah generasiku ( para sahabat ) kemudian generasi berikutnya (tabi’in) kemudian generasi berikutnya ( tabiu’t tabi’in )” [HR. Bukhari-Muslim]
Para ulama Islam dari dahulu hingga sekarang adalah orang-orang yang cermat dan berhati-hati dalam pengambilan sumber ilmu. Misalnya dalam periwayatan hadits, Ibnu Sirin dalam Shahih Muslim berkata:
ان هذا العلم دين, فانظرواعمن تأخذوندينكم
“Sesunggunya ilmu hadits ini adalah bagian dari agama, maka perhatikanlah dari siapa engkau mengambilnya”
Berbeda dengan Yahudi dan Nasrani yang tidak memperhatikan sanad (jalur periwayatan) terhadap ilmu-ilmu dalam agama mereka. Sehingga mereka pun menyimpang jauh dari kebenaran, karena mengambil ilmu dari sumber-sumber yang tidak dikenal dan tidak dipercaya. Maka sanad adalah bukti bahwa Islam adalah agama yang ilmiah. Sampai-sampai Sufyan Ats Tsauri berkata:
الإسناد سلاح المؤمن
“Sanad adalah senjata seorang mu’min”
Walhasil, sebagian kaum muslimin yang beragama dengan tanpa sandaran, tanpa rujukan, hanya ikut perkataan ustadz, hanya manut pada kyai, berdalil dengan ‘katanya…..’, berdalil dengan ‘menurut saya…’, berdalil dengan ‘saya rasa….’, sungguh mereka telah menginjak-injak keilmiahan Islam. Dan mahasiswa, yang disifati sebagai orang yang ilmiah dan intelektualis, sepatutnya tidak demikian.
Orang jenius dan Islam
Masih ada orang yang beranggapan bahwa orang-orang yang ‘alim, yang memiliki perhatian dan menyibukkan diri dengan agama adalah orang-orang yang kuno, kurang pandai, ber-IQ rendah, tidak mengerti ilmu eksakta sehingga orang-orang yang ingin dikatakan ‘intelek’ pun menjauhi belajar agama.
Tentu ini tidak benar. Setelah kita ketahui bahwa Islam adalah agama yang ilmiah, maka konsekuensinya, dalam mendalami dibutuhkan orang-orang yang bisa melakukan metodologi ilmiah, dan yang demikian hanya bisa dilakukan oleh orang yang pandai, cerdas serta ‘encer’ otaknya.
Dan sejarah telah membuktikan bahwa para ulama Islam sejak dahulu hingga sekarang adalah orang-orang yang pandai, cerdas bahkan jenius! Lihatlah Imam Bukhari rahimahullah, begitu kuat hafalannya sehingga saat ada 10 orang ahli hadits yang masing-masing menyebutkan 10 hadits dengan urutan sanad yang sengaja di kacaukan, beliau dapat menyebutkan urutan sanad yang benar dari 100 hadits tersebut! Sufyan Ats Tsauri saking kuat hafalannya ia sampai berkata, “Saya melewati penjahit di pasar sambil menutup telinga saya, karena khawatir menghafal apa yang ia katakan” [Lihat di Siyar ‘Alamin Nubala, 7/222, dinukil dari Kayfa Tatahammas]. Dan betapa banyak diantara mereka yang hafal Al Qur’an di usia dini.
Perhatikanlah wahai mahasiswa, ni’mat Allah yang telah berikan kepadamu berupa kecerdasan dan kepandaian, sudah digunakan untuk apa? Semoga Allah merahmati para ulama yang telah mensyukuri ni’mat kecerdasan dan kepandaian yang mereka miliki dengan menggunakannya untuk mendalami ilmu agama dan menda’wahkannya kepada ummat secara ilmiah.
لئن شكرتم لأزيدنكم ولئن كفرتم إن عذابي لشديد
Artinya: “Jika kalian bersyukur sungguh akan Kami tambahkan ni’mat kepada kalian. Namun jika kalian ingkar sungguh azab-Ku sangatlah pedih” [Ibrahim: 3]
Mahasiswa Bangkitlah!
Ditengah banyaknya ‘pembodohan’ dalam beragama di tengah masyarakat, dibutuhkan sosok-sosok yang dapat membebaskan mereka dari ‘pembodohan’ tersebut. Dikala masyarakat banyak dipengaruhi para ustadz, kyai dan da’i yang mengajarkan Islam secara serampangan dan tanpa dasar, dikala banyak aliran-aliran yang mengajak pengikutnya untuk bertaqlid buta sehingga menciptakan banyak friksi dalam masyarakat Islam, dikala kelompok liberal mengajak ummat untuk ‘murtad’ secara halus, maka dibutuhkan pribadi-pribadi yang pandai nan cerdas, yang merujuk pada Al Qur’an dan As Sunnah dengan metodologi ilmiah untuk membebaskan dari ‘pembodohan’ tersebut. Jika memang benar klaim bahwa mahasiswa adalah manusia-manusia yang ilmiah, kritis, cerdas dan berani, maka nampaknya merekalah yang cocok untuk mengemban tugas ini.
Islam adalah agama yang ilmiah, dan untuk berislam dengan benar memang harus ilmiah. Belajar Islam yang benar pun butuh kepandaian dan kecerdasan. Maka sudah sepatutnya para mahasiswa muslim untuk bangkit menegakkan dien mereka, tidak hanya berkutat pada hal-hal duniawi belaka. Sudah sepatutnya mereka memutar otak mereka, tidak hanya untuk ‘urusan perut’ belaka, melainkan hal yang lebih besar dan penting yaitu memikirkan bagaimana nasibnya di akhirat kelak. Yaitu dengan menempuh jalan beragama yang benar. Ya, bangkitlah mahasiswa!
Dan langkah pertama untuk kebangkitan itu adalah: belajar.
Selasa, 09 Desember 2008
Bersyukur Karena Sakit, Bagaimana bisa ??
Di sebuah kota yang terkenal dengan kota pahlawan dan juga mungkin beberapa daerah termasuk daerah Anda kini mulai beralih musim, dahulunya cuaca panas yang membuat kita membutuhkan air yang menyegarkan dan menghilangkan dahaga, kini gerimis mulai datang sekalipun terkesan tidak diundang. Kita pun tidak lupa untuk mengingat Allah subhanahu wa ta’ala, berdzikir kepadanya “Allahumma shoyyiban naafi’a“, Yaa Allah turunkanlah hujan yang bermanfaat. Pergantian musim ini biasanya disebut dengan istilah “pancaroba”, sudah maklum diketahui setiap musim, bahwa setiap musim pancaroba datang maka tidak sedikit ummat Islam yang diberi ujian oleh Allah berupa sakit mulai dari sakit-sakit yang ringan seperti flu, demam, batuk sampai sakit yang cukup berat semisal demam berdarah. Di satu sisi ini merupakan ujian yang Allah berikan kepada kita, apakah kita menghadapinya dengan murka, bersabar, ridlo, atau bahkan bersyukur dengan panyakit yang menimpa kita. Inilah empat tingkatan ketika seseorang ditimpa musibah.
Ketika seseorang di beri ujian oleh Allah dengan penyakit yang menyapa dirinya mereka akan murka, marah-marah, jengkel kepada Rabb-nya atas apa yang ditimpakan kepada dirinya. ini hukumnya haram bahkan dapat menyeret seorang hamba kedalam kekufuran, wal’iyyadzubillah. Allah berfriman,
“Di antara manusia ada yang menyembah Allah dengan berada di tepi, maka jika memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keaadaan itu, dan jika ditimpa suatu bencana berbaliklah ia ke belakang. Ia rugi dunia dan akhirrat” [Al-Hajj : 11]
Dan ketika dia bersabar dalam menghadapai ujian ini, Maka orang ini akan melihat bahwa suatu musibah itu berat, namun ia tetap menjaga imannya sehingga tidak marah-marah, meski ia berpandangan bahwa adanya musibah itu dan ketiadaannya tidaklah sama. Ini hukumnya wajib karena Allah Ta’ala memerintahkan untuk bersabar. seperti kata penyair, bahkan orang sabar itu pahit rasanya tetapi lebih manis akibatnya dari pada madu.
Allah berfirman,
“Bersabarlah kalian, sesunguhnya Allah berserta orang-orang yang sabar” [ Al-Anfal : 46]
Tingkatan yang ketiga adalah ridlo atas ujian ini, Yakni manusia ridlo dengan musibah yang menimpanya. Ia berpandangan bahwa ada dan tidaknya musibah sama saja baginya, sehingga adanya musibah tadi tidak memberatkannya. ia pun tidak merasa berat memikulnya. Ini dianjurkan dan tidak wajib menurut pendapat yang kuat. Perbedaan tingkatan ini dengan tingkatan sebelumnya nampak jelas karena adanya musibah dan tidak adanya sama saja dalam tingkatan ridlo. Adapun pada tingkatan sebelumnya, jika ada musibah dia merasakan berat, namun ia tetap bersabar.
Dan yang tingkatan tertinggi adalah orang yang justru bersyukur ketika ditimpa musibah, yang menjadi heran bagi kita, mengapa kita justru bersyukur ketika ditimpa ujian dengan panyakit yang menyapa kita ? maka jawabnya bahwa orang yang bersyukur terhadap penyakit yang menimpanya karena dia yakin bahwa Allah mengampuni dan memaafkan dosa dan kesalahan kita lantaran penyakit tersebut. Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda,
“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit atau sejenisnya, melainkan Allah akan menggugurkan bersamanya dosa-dosanya, seperti pohon yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR. Bukhori)
Inilah motivasi supaya kita bersyukur akan ujian penyakit yang menimpa kita, kita meyakini sabda Nabi kita shalallahu’alaihi wa sallam di atas sehingga kita semakin bersyukur atas ujian penyakit yang ditimpa oleh kita. Bahkan hanya sekedar keletihan, kecapaian, atau tertusuk duri yang kecil, semua itu dapat menghapuskan dosa kita, sebagaimana sabdanya shallahu’alaihi wasallam.
“Tidaklah seorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah-gulanaan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya.” (HR. Bukhari).
Kamis, 04 Desember 2008
Menghargai Proses Diri Dan Orang Lain

“Life is an everlasting learning,
learn how to be honest to your own heart
and learn to have a big opened heart to love deeply
and to forgive quickly.”
[Anonymous]
Hidup Adalah Sebuah Proses…
Hidup adalah sebuah proses. Sebuah proses dari kita tidak mengerti apa-apa, yang saat itu, kita masih sangat bergantung pada Ibunda kita. Sampai sekarang. Ya, sampai saat ini. Sampai telah banyak yang kita ketahui tentang kehidupan. Meskipun masih banyak hal yang belum kita ketahui.
Setiap manusia itu berbeda-beda. Tiap-tiap kita pastilah mempunyai keunikan sendiri. Serta mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kita, bisa sampai kepada titik dimana sudah banyak yang kita ketahui tentang kehidupan, tak lain berasal dari proses belajar. Waktu balita kita belajar agar bisa berbicara. Belajar supaya kita bisa berjalan. Belajar bagaimana kita bisa mengucapkan terimakasih kepada Ayah dan Ibu kita. Waktu kecil, ketika kita belajar berjalan…lalu terjatuh…bangkit lagi, kemudian terjatuh lagi… lalu bangkit lagi…dan begitu seterusnya. Orangtua pun tidak menyalahkan kita atas jatuhnya kita. Justru sebaliknya, mereka selalu menyemangati kita untuk tetap berusaha agar bisa lancar berjalan. Bila kita terjatuh, mereka membantu… Bila kita menangis, mereka menenangkan dan menghibur kita… Mereka tidak mengejek kita karena belum bisa berjalan. Mereka, juga tidak pernah meremehkan kita karena sering terjatuh sewaktu belajar berjalan. Karena mereka, adalah orang-orang yang selalu menghargai proses belajar kita.
Tapi kini, ketika sudah beranjak dewasa. Mengapa sulit sekali bagi kita untuk menghargai proses diri dan orang lain? Ketika kita sudah mendapat ilmu yang lebih, baik ilmu dunia maupun ilmu agama, mengapa dengan ilmu yang kita miliki, malah membuat kita lebih mudah menghakimi orang lain? Padahal setiap orang membutuhkan proses yang berbeda-beda. Padahal, proses belajar kita tidaklah sama…
Kita Semua Belajar Dari Kesalahan…
“Lihatlah si fulanah, pakai jilbab koq pendek dan ketat gitu”. “Lihatlah si fulan, sudah tau hukumnya menjaga pandangan, tapi koq pandangannya malah gak dijaga!”. Ahhhh…iya, si fulan dan di fulanah tadi memang belum bisa menjalankan syari’at dalam hal berpakaian dan menjaga pandangan. Tapi, apakah berarti kita mempunyai hak untuk men-judge mereka? Apakah berarti kita punya hak untuk meremehkan atau mengejek mereka? Padahal perbedaan kita dan mereka adalah kita sudah mengetahui tentang hukum syar’i dan biiznillah, kita bisa melaksanakan aturan tersebut dengan baik. Sedangkan mereka, mungkin belum mengetahui tentang apa-apa yang sudah kita ketahui. Atau mungkin, mereka sudah tau, tapi mereka masih butuh proses untuk itu. Salahkah mereka? Wallahu a’lam. Toh setiap manusia tak lepas dari kesalahan. Kita semua belajar dari kesalahan.
Karena Setiap Orang Berbeda. Maka Jangan Disamakan…
Lantas, apa yang harus kita lakukan..agar mereka bisa mendapatkan ilmu yang telah kita ketahui lebih dulu disbanding mereka? Jawabannya adalah mudah, berikanlah contoh dan nasihat yang baik . Sering kali, mungkin tidak kita sadari, tauladan yang baik itu lebih baik dari 1000 nasihat sekalipun.
Jangan Asal Menasehati…
Sayangnya, banyak dari kita yang “asal” dalam menasehati. Mungkin cara kita yang kurang lemah lembut, atau tidak dengan hikmah yang baik dalam penyampaiannya. Ataukah, kita salah dalam “memilih” orang untuk kita nasehati . Bayangkan, jika kita melakukan kesalahan yang sebenarnya kita tau bahwa itu salah, tapi terpaksa kita lakukan atau banyak faktor yang membuat kita akhirnya terjatuh dalam kesalahan. Atau mungkin, kita memang masih dalam proses untuk keluar dan bangkit dari kesalahan yang kita lakukan. Tiba-tiba, ada orang yang ujug-ujug menasehati kita. Seolah-olah dialah yang paling tau tentang masalah kita. Seolah-olah, dia yang paling tau soal kondisi kita. Dan seolah-seolah ialah yang paling benar.
Nasihat yang diberikan mungkin memang adalah nasihat yang baik. Tapi kalau caranya tidak baik dan tidak pas diberikan ke kita, dalam waktu, situasi, kondisi..dan bukan diberi nasihat oleh orang yang tepat. Bisa jadi justru nasihat tersebut di tolak mentah-mentah dan si penerima nasihat malah menjauhi si pemberi nasihat dan apa-apa yang “diberikan” oleh si pemberi nasihat.
Misalnya contoh mudahnya adalah ketika kita mengetahui sahabat terdekat kita melakukan kesalahan, apakah lantas kemudian kita langsung menghakiminya? Apakah kita langsung menjauhinya? Dan apakah kita mempunyai hak untuk menjelek-jelekannya…? Tentu saja tidak. Karena setiap orang mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing. Mungkin saja kelemahan kita pada suatu hal adalah kelebihan orang lain. Dan sebaliknya, mungkin saja kelebihan kita dalam suatu hal, adalah merupakan titik lemah orang lain. Oleh karena itu, yang harus kita lakukan yang pertama kali adalah memberikan contoh yang baik. Kalau pun masih belum “mempan”, ya berikanlah nasihat, dengan sebelumnya jalinlah komunikasi yang baik, untuk mengetahui sebab muasal kenapa ia bisa berbuat kesalahan tsb. Benar begitu? Dan jika belum diterima dan dilaksanakan juga nasihat kita, maka bersabarlah. Serta senaniasa mendo’akan sahabat kita agar Allah membukakan pintu hatinya. Sungguh, hanya Allah Pembolak-balik hati manusia.
Qulil Haqqo Walau Kaana Murron…
Pernah dengar kalimat diatas? Yang berarti : “katakan yang benar walaupun pahit..” Ya, terkadang..kita memang harus mengatakan sesuatu yang benar, meskipun itu ‘pahit’. Namun, apakah jika kita sudah mengetahui pil pahit itu akan kita berikan ke orang lain, lantas cara yang kita gunakan juga mesti ‘pahit’ juga? Ibarat akan menelan pil pahit, kita sering menambahkannya dengan madu. Ataukah mencampurkannya dengan buah pisang, agar pahitnya pil tidak begitu terasa. Seperti halnya memberi nasihat, jika sudah tahu nasihat yang akan kita berikan itu ‘pahit’ bagi sang penerima. Apa caranya mesti ‘pahit’ juga? Tentu tidak bukan?
“Sesungguhnya tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu, kecuali pasti menghiasinya.
Dan tidaklah kelembutan itu hilang dari sesuatu, kecuali akan menjelekkannya.”
(HR. Muslim no. 2594)
Semoga Allah menghimpun kita dalam kebaikan dan kebenaran…
Kamis, 13 November 2008
Partai Islam Bersatu, Kapankah?
Ustadz,
Terus terang, saya senang banyak Partai Islam atau yang bernuansa Islam di Indonesia. Sehingga, umat muslim di Indonesia punya banyak pilihan dalam memilih wakilnya untuk duduk di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR. DPRD I, DPRD II). Sayangnya, ketika mereka (Anggota Dewan) berada di Dewan tersebut, mereka tidak menyatu dalam menentukan sikap (berkoalisi sesama Partai Islam (PKS, PAN, PKB, PBR, PBB, dll). Mereka justru berkoalisi dengan Partai yang jelas-jelas tidak membawa aspirasi Umat Islam.
Demikian pula ketika mereka mencalokan seseorang dalam PILKADA atau PILPRES, mereka punya calon sendiri-sendiri, sehinga suara umat Islam pecah, dan akhirnya kalah dengan calon yang lain.
Sebagai contoh, bila PKS, PAN, dan PKB bersatu dalam PILKADA BANTEN, Insya Allah mereka akan menang. Tapi, karena mereka punya calon sendiri-sendiri, akhirnya kalah dengan calon yang lain. Pertanyaan saya, apa tidak ada pencerahan untuk wakil-wakil yang duduk di atas sana? Saya kira, itu juga tugas kita bersama.
Terima Kasih.
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Idealnya memang masing-masing partai yang punya konsern tersendiri kepada umat Islam itu sering-sering bersilaturrahim sesama mereka. Sehingga akan memperkecil perbedaan visi serta langkah-langkah strategis di antara mereka. Mereka bisa memperjuangkan segala sesuatunya secara bersama-sama, demi kepentingan umat Islam.
Bukankah silaturahim itu sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW? Bukankah sesama umat Islam harus saling menguatkan? Bukankah sesama umat Islam itu kita harus 'merendahkan sayap'?
Namun sampai saat ini kenyataannya masih jauh dari harapan. Paling tidak, itulah yang oleh banyak kalangan dirasakan dan disaksikan langsung. Rupanya meski masing-masing partai itu punya konsern kepada masalah umat, namun mereka punya kebijakan sendiri-sendiri, termasuk dalam mengusung calon pemimpin untuk suatu wilayah.
Memang masalah inilah sebenarnya yang paling krusial untuk dakwah di bidang politik di negeri kita. Yaitu bagaimana mengatukan visi dan langkah bersama sesama pengusung partai berbasiskan umat Islam.
Sayangnya, latar belakang sejarah negeri ini juga kurang memberikan harapan. Beberapa partai Islam di masa lalu juga mengalami kendala serupa. Bahkan hanya sekali saja tercatat semuanya bisa berfusi dalam satu partai, yaitu di zaman kejayaan Masyumi. Setelah itu masing-masing punya jalan sendiri-sendiri. Bahkan tidak jarang justru terlibat konflik horisontal antara sesama mereka.
Kalau kita lihat dengan perspektik lebih luas, sebenarnya penyakit seperti ini juga melanda berbagai pejuang Islam di berbagai negeri. Misalnya, di Palestina ada faksi Hamas dan Fatah yang jarang terlilhat akur. Padahal basisnya sama-sama umat Islam, bahkan musuh bersamanya juga jelas di depan hidung. Hal yang sama juga terdapat di Afghanistan dan beragam negeri lainnya.
Selama masing-masing kelompok masih membanggakan dirinya sendiri, selama itu pula potensi umat yang sebenarnya luar biasa ini malah menjadi tidak ada apa-apanya. Persis seperti yang digambarkan Al-Quran:
Kemudian mereka menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka. (QS. Al-Mu'minun: 53)
Rasa bangga atas kelompok ini pula sebenarnya yang dahulu melahirkan banyak partai Islam. Padahal seharusnya partai Islam itu satu saja tapi besar dan mayoritas. Bukan seperti sekarang ini, banyak tapi kecil-kecil, tidak kompak pula. Begitulah,tiap-tiap tokoh merasa harus jadi raja meski dengan kerajaan kecil-kecil. Mereka tidak rela untuk jadi bagian dari sebuah kerajaan besar. Mungkin inilah yang seringkali disebut sebagai megalomania.
Di masa mendatang, kita perlu memberikan pendidikan politik syariah (siyasah syar'iyah) yang lebih mengedepankan persatuan dan kesatuan umat, menepis semua bentuk perbedaan pendapat serta tidak mengajarkan rasa bangga atas kelompok, golongan, jamaah atau faksi. Kalau sekarang ini kita terlalu berharap jauh, nanti kita kecewa berkepanjangan. Lebih baik sekaran kita ikut menyebarkan wacana dan fikrah yang sehat tentang bagaimana seharusnya berjuang lewat partai dakwah.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.
Minggu, 09 November 2008
Jangan Berharap Pada Obama

Dunia Barat menyambut dengan gembira terpilihnya Barack Obama sebagai presiden ke 44 Amerika Serikat. Kebencian terhadap Bush dan ketidak populeran kebijakan Amerika selama 8 tahun sangat merusak citra ‘kebebasan dan demokrasi’ dan banyak orang yang berharap bahwa Obama akan menjadi sang penyelamat yang akan merubah image Amerika sebagai sebuah negara yang suka perang di dunia. Mengomentari terpilihnya Obama, Taji Mustafa, perwakilan media Hizbut Tahrir Inggris mengatakan, “Amerika bukanlah satu orang. Amerika adalah sebuah negara dengan banyak institusi, yang telah melakukan kompromi atas prinsip-prinsip yang diemban sebagaimana klaim mereka. Amerika memiliki sistim kapitalis yang kerusakan-kerusakannya telah terungkap. Seseorang tidak akan pernah merubah segala permasalahan sistemik dari sebuah negara, seberapa baikpun dia berikrar untuk melakukan hal itu. Amerika adalah sebuah negara kapitalis dengan seperangkat kebijakan luar negeri kapitalis yakni untuk menjajah negara-negara lain. Dengan cara itulah, negara itu senantiasa mencari cara untuk mempertahankan dominasinya di Dunia Islam dan terus melanjutkan agenda eksploitasi kapitalisnya. Presiden boleh datang dan pergi, kebijakan mungkin berubah, tapi tidak akan ada perubahan yang benar-benar nyata (real change).” “Kita harus melihat pribadinya dan mengevaluasi kebijakan-kebijakan yang telah dinyatakannya. Barack Obama telah menyatakan keinginannya untuk menyerang Pakistan, mengintensifkan peperangan di Afghanistan dan terus mempromosikan kapitalisme yang telah membawa malapetaka. Dia juga telah berikrar untuk senantiasa mendukung pendudukan brutal Israel di Palestina. Dimanakah letak perubahan ‘yang sesungguhnya’ dari kebijakan-kebijakan George W. Bush?” “Perubahan yang sesungguhnya di Dunia Islam tidak bisa datang dari kepercayaan pada satu orang. Tidak juga hal ini akan pernah datang dari sebuah sistim kapitalis yang telah gagal. Perubahan itu akan datang ketika kaum muslim di dunia kembali kepada Islam, kembali kepada keyakinan idei-ide politik Islam dan mendirikan kembali Kekhilafahan Islam: sebuah sistim yang bertanggung jawab, adil, tertutup bagi manipulasi, yang meletakkan kaum duafa dan lemah di pusat sistim ekonominya, dan yang akan mempertahankan tanahnya dari pendudukan dan eksploitasi.” www.hizb.org.uk
[FOTO EKSLUSIF] As Syahid Imam Samudra


Ahad 09 Nov, 02:43 PM
Hari ini telah dijemput para bidadari para kafilah syuhada, Mujahid Imam Samudera, Mujahid Amrozi dan Mujahid Ali Ghufron. Mereka semua telah menunjukkan pada umat ini bagaimana sikap mujahid sejati yang tetap istiqomah.
Sejak kedatangan jenazah Mujahid Imam Samudera yang diterima dirumah istri beliau Zakiah Derajat, keluarga besar tampak tabah dan meyakini akan syahidnya As Syahid Imam Samudera.
Wajah as syahid Imam Samudera yang sempat dibuka keluarga tampak putih segar, tersenyum dan berpaling kekanan sebagaimana ekspresi raut kebahagiaan dan kepuasan bertemu dengan Sang Khalik. As Syahid Imam Samudera membawa luka yang akan menjadi bukti di hadapan Allah untuk menjadi salah satu pengikut rombongan kafilah syuhada.
Setelah disholatkan keluarga, jenazah dibawa menuju masjid Al Manar Serang Banten diiringi ribuan masyarakat pada kanan kirinya jalan. Sholat jenazah diikuti ribuan umat muslim sehngga memerlukan 3 kali kesempatan sholat jenazah.
Walaupun dengan penjagaan yang sangat ketat dari aparat, hal ini tidak menyurutkan ribuan kaum muslimin mengiringi as syahid Imam Samudera untuk mengantarkan ke kuburnya. Gema takbir terus membahana mengiringi As Syahid Imam Samudera menjemput bidadari.
Sungguh,As Syahid memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi para mujahid bagaimana wujud Iskariman au mut syahidan (Hidup Mulia, Atau Mati Syahid).(Prince of jihad/arrahmah.com)
Selasa, 04 November 2008
Renungan Surat Ash-Shaff Bagi Aktivis Dakwah
********
As-Shaff yang bermakna barisan adalah salah satu surat dalam Al-Qur’an yang patut menjadi bahan renungan bagi para da’i. Surat ini merupakan Ma’alim fii at-Thoriiq (petunjuk jalan) bagi aktivis dakwah. Surat ini walaupun pendek tetapi mencakup semua yang dibutuhkan para da’i dari aqidah, akhlak, sejarah, ukhuwah, obyek dakwah, sampai pada puncak ajaran Islam, yaitu Jihad di jalan Allah. Sehingga para kader wajib menghafalnya, mentadaburinya secara berulang-ulang dan mengamalkannya dalam aktivitas dakwah mereka.
Nama surat biasanya menjadi tema sentral dari substansi surat tersebut, demikian juga surat As-Shaff. Shaff adalah sesuatu yang sangat penting dan sangat menentukan keberhasilan dalam dakwah, jihad dan pergerakan Islam. Bahkan kesatuan shaff adalah persyaratan mutlak bagi kemenangan pergerakan dan dakwah Islam. Tanpa adanya kesatuan shaff, maka akan menimbulkan dampak langsung bagi kekalahan dan kegagalan dakwah dan perjuangan. Kisah perang Uhud merupakan salah satu bukti dari kekalahan perang disebabkan shaff yang berantakan, padahal sebelumnya sudah berada diambang kemenangan.
Namun demikian kesatuan shaff merupakan proses panjang dari realisasi aktivis dakwah terhadap nilai-nilai Islam. Kekuatan dan kekokohan shaff apalagi digambarkan Al-Qur’an sebagai kal-bunyaan al-marsuus (seperti bangunan yang kokoh) sangat terkait dengan nilai yang paling fundamental dari aktivis harakoh yaitu aqidah, ukhuwah dan fikrah Islam. Tanpa ada kekuatan aqidah, ukhuwah dan pemahaman yang mendalam terhadap fikrah Islam, maka mustahil kesatuan dan kekokohan shaff yang digambarkan Al-Qur’an dapat tercapai. Maka marilah kita merenungi apakah shaff dakwah kita sudah kokoh ? Apakah shaff Partai kita sudah bersatu dan kuat kal-bunyaan al-marsuus ?
Dan jika kita melihat realitas Partai Dakwah sekarang, maka sesungguhnya kita sangat membutuhkan pemimpin, figur dan tokoh Dakwah yang dapat mengokohkan shaff dan ukhuwah itu. Karena kesatuan shaff dan kekuatan ukhuwah adalah sesuatu yang paling prinsip dan mendasar dalam dakwah ini. Kita sangat membutuhkan pemimpin teladan yang dapat menjadi panutan para aktivis dakwah lainnya. Kita membutuhkan pemimpin yang zuhud yang dapat membebaskan dirinya dari fitnah harta dan jabatan.
Perjalanan dakwah masih panjang dan ujian dakwah sudah menghadang ditengah kita. Terkadang para da’i berhasil menghadapi ujian kesulitan dan penderitaan, tetapi tidak berhasil menghadapi ujian kemudahan dan kelezatan dunia, baik harta, wanita maupun jabatan. Dan demikianlah yang pernah diungkapkan oleh generasi terdahulu kita: Ubtuliina bid-dhorraa fashabarnaa ubtuliinaa bis-sharraa falam nashbir (kami diuji dengan kesulitan, maka kami bersabar, kami diuji dengan kemudahan tetapi kami tidak sabar). Oleh karenanya, hanya aktivis dakwah yang ikhlaslah yang dapat berhasil keluar dari ujian dan fitnah dalam dakwah tersebut
Surat As-Shaff memberikan Ma’alim fii at-Thariiq bagi para da’i agar tidak menyimpang dalam dakwahnya dan agar tetap teguh dalam shaff yang rapi dan kokoh walaupun ujian, fitnah dan cobaan dalam dakwah datang menghadangnya. Dan marilah kita renungi satu-persatu ayat-ayat dalam surat tersebut.
Tasbih kepada Allah (At-Tasbiih Lillah)
Bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Seluruh mahluk Allah yang ada di langit dan bumi melantunkan tasbih kepada Allah SWT. Yang Maha Perkasa lagi Bijaksana. Mereka bertasbih dengan bahasanya masing-masing. Maka manusia sebagai mahluk Allah yang paling sempurna lebih layak untuk bertasbih. Dan para da’i yang senantiasa mengajak manusia agar beribadah dan menyembah Allah lebih layak lagi untuk bertasbih, mensucikan dan mengagungkan Allah SWT. Subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaha illallahu Allahu Akbar. Kehidupan para da’i adalah kehidupan tasbih, dzikir dan do’a. Kehidupan aktivis dakwah adalah kehidupan shalat, tilawah Al-Qur’an dan menyembah Allah SWT.
Modal utama yang harus dimiliki oleh aktivis harakah adalah quwwatus shilah billah (kekuatan hubungan dengan Allah). Tanpa modal itu, maka percuma menjadi kader dakwah dan tidak akan berhasil menjadi kader dakwah. Karena perjalanan dakwah adalah perjalanan yang sulit, berliku, banyak rintangan dan panjang. Dan itu tidak akan dapat dilampui, kecuali aktivis dakwah yang memiliki quwwatus shilah billah. Pelajaran inilah yang kita dapatkan dari turunnya surat Al-Muzammil yang mengiringi tugas berat Rasul saw. mendakwahi kaumnya. Surat Al-Muzzamil mengajarkan kepada para da’i pentingnya membangun quwwatus shilah billah dengan sholat malam dan tilawatul Qur’an.
Kejujuran dalam Berkata (Shidqul Kalam)
Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?
Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.
Allah SWT. menegur keras orang beriman dan aktivis dakwah yang mengatakan apa yang tidak diperbuat, bahkan Allah SWT. sangat membencinya. Karena aktivitas yang dominan dilakukan para da’i adalah dakwah yang banyak menggunakan ucapan. Sehingga ucapan itu harus diselaraskan dengan perbuatan. Karena ucapan yang tidak sesuai dengan perbuatan dan kenyataan adalah dusta yang merupakan sifat munafik. Sehingga kejujuran adalah modal utama berikutnya bagi para da’i.
Dan kejujuran harus dilakukan para da’i dalam dakwahnya. Jujur dalam menyampaikan risalah Islam, jujur dalam bersikap dan jujur dalam berkata-kata. Salah satu ajaran Islam yang terpenting adalah jihad dan berperang melawan musuh Allah. Tetapi kita menyaksikan banyak para penceramah yang sudah dikenal oleh orang banyak dengan sebutan ustadz atau kyai dan sebutan lainnya tidak jujur dalam menyampaikan Islam. Mereka tidak berani menyampaikan jihad, dan kalaupun menyampaikan kata jihad, maka dibatasinya dalam ruang lingkup yang sempit, yaitu jihad melawan hawa nafsu. Atau semua bentuk jihad disebutkan, kecuali jihad dalam memerangi musuh Allah, baik musuh Allah itu Yahudi, Kristen maupun orang kafir lainnya.
Kejujuran dalam berkata dan bersikap merupakan keharusan bagi setiap muslim apalagi para kader dan pemimpin dakwah yang menyampaikan nilai-nilai Islam. Para kader dakwah tidak boleh memiliki standar ganda dalam perkataan dan sikap. Karena standar ganda akan merusak barisan dakwah dan menggagalkan perjuangannya. Syuro’ yang dilakukan Rasulullah saw. sebelum perang Uhud merupakan sikap kejujuran yang paling baik yang terjadi pada diri Rasul dan sahabatnya. Ketika terjadi musyawarah sebagian besar sahabat menghendaki peperangan dilakukan di luar Madinah, sementara Rasulullah saw. cenderung peperangan dilakukan di Madinah. Pendapat Rasul diikuti sahabat lain, tetapi mayoritas sahabat terutama para pemuda yang belum ikut perang Badar menghendaki perang dilakukan diluar Madinah. Akhirnya, Rasulullah saw. mengikuti pendapat mayoritas dan perang dilakukan diluar Madinah. Dan Rasulullah saw. memimpin langsung perang tersebut. Demikianlah, kejujuran adalah bagian dari prinsip bagi kader dan pemimpin dakwah dalam aktivitas dakwahnya.
Perang di Jalan Allah dalam Satu Barisan yang Kuat (Al-Qitaal fii Sabilillah Shaffan)
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.
Kehidupan di dunia sejatinya merupakan peperangan antara kebenaran dan kebatilan. Perang antara para pengikut kebenaran dan pengikut kebatilan semenjak mulai nabi Adam as versus Iblis la’natullah. Inilah logika dan aqidah yang harus melandasi para da’i dalam berdakwah. Dan puncak peperangan adalah perang fisik dan perang peradaban. Peradaban Materialisme dan Peradaban Islam akan terus menerus bersaing dan berperang untuk meraih kemenangan. Peradaban Materialisme di komandani oleh penguasa kafir dan diktator dari dahulu sampai akhir zaman. Mereka adalah Namrud, Firaun, Qorun, Abu Jahal, Abu Lahab, Lenin, Stalin, Hitler, Goerge Bush dan anaknya Goerge Walker Bush, Ariel Saron dll. Sedangkan peradaban Islam dipimpin oleh para nabi as sampai nabi terakhir nabi Muhammad saw. Khulafaur Rasyidin, dan para ulama yang tegak membawa panji kebenaran.
Perang fisik memang jalan terakhir jika orang-orang kafir tidak mempan dengan logika dan fikiran. Karena Islam, sesuai dengan namanya adalah agama cinta damai dan mengutamakan perdamaian. Perang fisik bukanlah tujuan, tetapi sarana agar orang hanya tunduk kepada kebenaran dan agar tidak ada lagi fitnah yang disebarkan musuh-musuh Allah. Islam menghendaki tidak ada kerusakan dan kezhaliman di muka bumi. Dan para da’i bertugas untuk mengajak manusia agar mereka tunduk kepada kebenaran, tidak melakukan kezhaliman dan kerusakan.
Pada saat jalan lain buntu, tujuan perdamaian tidak tercapai dan manusia tidak merasa aman, maka perang fisik adalah sarana yang paling ampuh untuk menegakkan keamanan dan perdamaian tersebut. Allah SWT. berfirman, artinya:” Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mu’min (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan (Nya)” (QS An-Nisaa’ 84).
Mengambil Pelajaran dari Dakwah Para Rasul as. (Akhdzul ibroh min Da’watir Rusul)
Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, mengapa kamu menyakitiku, sedangkan kamu mengetahui bahwa sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu?” Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.
Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata”.
Para Rasul yang besar adalah Rasul yang mendapat gelar Ulul Azmi, mereka adalah nabi Nuh as., nabi Ibrahim as., nabi Musa as., nabi Isa as., dan nabi Muhammad saw. Dan dalam surat ini menceritakan dua nabi besar yang pengikutnya paling besar setelah nabi Muhammad saw. Dan peradaban umat manusia terbesar sekarang dari ketiga pengikut nabi tersebut, yaitu nabi Musa as. nabi Isa as. dan nabi Muhammad saw. Nabi Musa as. diklaim oleh bangsa Yahudi, walaupun mereka sendiri mengingkari ajaran nabi Musa as. dan kitab sucinya. Sedangkan nabi Isa as diklaim oleh kaum Nashrani (Kristen), walaupun mereka mengingkari ajaran tauhid nabi Isa dan kitabnya. Dan kedua nabi besar tersebut berasal dari Bani Israil yang sekarang mendominasi masyarakat barat. Sedangkan umat nabi Muhammad saw. adalah umat Islam yang mendiami dunia Islam dan sebagian di wilayah lainnya.
Kedua ayat diatas menceritakan bagaimana keingkaran umat nabi Musa as. dan umat nabi Isa as pada nabinya. Jadi jika nabi dari kaumnya sendiri saja diingkari, apalagi jika datang nabi dari kaum yang lain, yaitu nabi Muhammad dari bangsa Arab. Inilah yang sekarang terjadi, permusuhan dan kebencian Yahudi dan Nashrani kepada Islam dan umat Islam. Dan aqidah inilah yang harus diyakini oleh semua umat Islam. Allah SWT. berfirman, artinya: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka” (QS Al- Baqarah 120).
Dan ayat-ayat berikutnya dari surat As-Shaff akan menceritakan bagaimana kebencian dan upaya orang-orang kafir tersebut memusuhi Islam dan umat Islam. Dan bagaimana mereka berupaya semaksimal mungkin memadamkan cahaya Islam tersebut.
Mengetahui Hakekat Orang Kafir (Ma’rifah Haqiqat al-Kuffar)
Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada agama Islam? Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.
Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.
Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci.
John Elpostito menawarkan tesis Dialog Peradaban, dan tentu saja teori itu sejalan dengan ruh Islam yang sangat mencintai perdamaian. Namun, mungkinkah Dialog Peradaban tersebut dapat terealisir? Sedangkan Samuel Hutington memiliki tesis tersendiri, yaitu Konflik Peradaban atau Perang Peradaban. Dan nampaknya, tesis inilah yang dekat dengan sifat-sifat orang kafir yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Orang-orang yang menolak Islam adalah orang yang paling zhalim, karena mereka menolak kebenaran.
Lebih jauh dari itu orang-orang kafir berupaya sekuat kemampuan mereka untuk memadamkan cahaya Islam dengan segala potensi, kekayaan dan jiwa mereka. Media masa adalah sarana yang paling efektif yang mereka gunakan untuk memadamkan cahaya kebenaran itu. Televisi mereka gunakan untuk merusak citra Islam, dan mempropaganda agama mereka. Pada saat yang sama mereka mempublikasikan segala bentuk kemusyrikan dan kemaksiatan lewat televisi yang mereka kuasai. Misionaris datang ke dunia Islam bersama para penjajah, menawarkan ‘cinta kasih’ dengan makanan, kesehatan dan bantuan lainnya. Cinta kasih yang berisi racun itu banyak membuat umat Islam yang miskin terbuai dan mengikuti mereka. Maka bertebaranlah gereja dan yayasan sosial milik misionaris di dunia Islam. Tetapi pengorbanan dan upaya maksimal yang dilakukan orang-orang kafir untuk memadamkan cahaya Islam tidak akan berhasil. Karena agama ini adalah milik Allah dan Allah akan memenangkan agama-Nya walaupun mereka benci.
Pada saat mereka merasa tidak mampu memadamkan cahaya Islam dengan media masa itu, maka mereka menggunakan senjata terakhir, yaitu perang fisik dan pemusnahan umat Islam. Inilah hakekat yang harus diketahui orang-orang beriman dan para da’i. Hakekat ini telah terbukti dengan realitas yang terjadi. Inilah yang terjadi di Palestina, Bosnia, Irak, Afghanistan, Rusia, India, Pilipina, Thailand, Burma, Singapura, Timor Timur, Maluku dll. Di Palestina umat Islam dibantai oleh Yahudi, di Rusia umat Islam dibantai oleh komunis, di Bosnia, Pilipina, Muluku dll umat Islam dibantai Kristen, di India umat Islam dibantai oleh Hindu, di Thailand dan Burma umat Islam dibantai oleh Budha. Demikianlah umat Islam menjadi musuh bersama, hanya karena mereka menyembah Allah. Dan sangat jika Yusuf Al-Qaradhawi mengatakan bahwa kekafiran adalah satu agama.
Berdagang dengan Allah (At-Tijarah Ma’allah Ta’ala)
Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?
(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya,
niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga `Adn. Itulah keberuntungan yang besar.
Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.
Setelah para da’i mengetahui tentang hakekat orang-orang kafir, kemudian Allah mengajak mereka pada suatu bisnis yang menguntungkan mereka dunia dan akhirat. Karena musuh-musuh Allah hanya dapat dihadapi dan dikalahkan oleh orang-orang yang siap berbisnis dengan Allah. Namun demikian bisnis ini syaratnya berat, sehingga tidak semua orang beriman mengikutinya. Bisnis ini syaratnya adalah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa. Hanya orang yang tahu (berilmu) agama yang mendalamlah yang dapat mengikti bisnis ini. Ilmu yang membuat orang beriman semakin khusu’ dan lebih mengutamakan kehidupan yang mulia dan kehidupan yang kekal di akhirat.
Bisnis ini sangat besar imbalannya, yaitu ampunan dari Allah atas dosa-dosa yang dilakukan, surga Allah yang penuh dengan kenikmatan berupa air yang mengalir, dan rumah-rumah yang indah. Dan tambahan yang lain berupa pertolongan Allah dalam kehidupan dunia dan kemenangan yang dekat atas musuh-musuhnya. Jihad memang satu-satunya jalan menuju kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Kabar gembira ini diperuntukkan bagi orang-orang beriman, yaitu orang yang tidak tertipu dengan segala fasilitas dunia. Orang beriman tidak mudah tunduk patuh dan loyal kepada orang-orang kafir dan fasik. Orang beriman menjadikan aktivitas politiknya untuk kemenangan Islam dan umatnya, bukan untuk memperkaya diri sendiri dan keluarganya. Orang beriman adalah orang yang yakin akan hari akhirat dan perjumpaan dengan Allah sehingga berupaya zuhud dari kehidupan dunia dan tidak membuat istana di dunia. Allah SWT. berfirman, artinya: “Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa” (QS Al-Qashash 83)
Jadilah Penolong Allah (Kunuu Anshrallah)
Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong agama Allah”, lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir; maka kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.
Dan puncak dari tawaran Allah adalah tawaran untuk menjadi penolong Allah (Anshorullah). Maukah kita menjadi tentara Allah ? Maukah kita menjadi penolong Allah ? Padahal sejatinya Allah tidak membutuhkan pertolongan kita. Tetapi inilah bahasa yang sangat indah, bujukan yang sangat halus, ajakan yang tidak ada yang bisa menangkapnya kecuali orang-orang yang beriman dan para da’i yang hatinya hidup serta siap memberikan sesuatu yang terbaik untuk agama Allah. Dan sebagai buahnya adalah dominasi dan kemenangan Islam serta kejayaan umat Islam. Wallahu A’lam Bishawaab
Rabu, 15 Oktober 2008
Jangan Bersedih...
Alhamdulillah, segala puji hanya bagi-Nya. Dia-lah Rabb kita, Yang Menciptakan, Memberi Rizki dan Mengatur urusan hamba-Nya. Dia-lah Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan. Segala sesuatu kembali kepada-Nya. Oleh karena itu, tidak sepatutnya bersedih. Mengapa? Karena kita punya Allah Subhanahu wa Ta’ala, Zat yang mengatur urusan hamba-Nya.
Shalawat serta salam semoga tercurah kepada sebaik-baik pendidik, yang telah mengajari kita untuk memaknai kehidupan dengan pemaknaan fitri (sesuai dengan fitrah). Sehingga dengan pemaknaan itu kita dapat merasakan kehidupan yang indah. Dialah Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam. Shalawat kepadanya, kepada sahabatnya, keluarganya, serta umatnya yang meniti jalan kebahagiaan dunia akhirat.
Bersedih, Bolehkah?
Pada momen tertentu kesedihan memang tidak dapat dihindari dan seseorang terpaksa harus bersedih karena suatu kenyataan. Oleh karena itu, ketika seorang hamba ditimpa kesedihan hendaknya ia senantiasa melawannya dengan doa-doa dan sarana-sarana lain yang memungkinkan untuk mengusirnya.
Doa-doa untuk mengobati kesedihan dapat dibaca dalam Hisnul Muslim”, karya Dr. Said bin Ali bin Wahf Al-Qahthani. Adapun sarana-sarana lain untuk mengusir kesedihan akan kita ikuti ulasannya beberapa saat lagi.
Kesedihan yang terpuji — yakni yang dipuji setelah terjadi — adalah kesedihan yang disebabkan oleh ketidakmampuan menjalankan suatu ketaatan atau dikarenakan tersungkur dalam jurang kemaksiatan. Dan kesedihan seorang hamba yang disebabkan oleh kesadaran bahwa kedekatan dan ketaatan dirinya kepada Allah sangat kurang. Maka, hal itu menandakan bahwa hatinya hidup dan terbuka untuk menerima hidayah dan cahaya-Nya.
Contoh konkret kesedihan ini adalah kisah tiga sahabat yang tidak mengikuti perang Tabuk tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariat. Mereka adalah Ka’ab bin Malik, Murarah bin Rabi’ dan Hilal bin Umayyah. Mereka merasakan kesedihan yang berlipat-lipat seolah-olah bumi telah menjadi sempit dan jiwa mereka pun terasa sempit.
Sementara itu, makna sabda Rasulullah dalam sebuah hadis shahih yang berbunyi, "Tidaklah seorang mukmin ditimpa sebuah kesedihan, kegundahan dan kerisauan, kecuali Allah pasti akan menghapus sebagian dosa-dosanya," adalah menunjukkan bahwa kesedihan, kegundahan dan kerisauan itu merupakan musibah dari Allah yang apabila menimpa seorang hamba, maka hamba tersebut akan diampuni sebagian dosa-dosanya. Dengan begitu, hadits ini berarti tidak menunjukkan bahwa kesedihan, kegundahan dan kerisauan merupakan sebuah keadaan yang harus diminta dan dirasakan.
Hal ini nampak dari kesedihan Ummul Mukminin, ‘Aisyah binti Abu Bakar yang merasakan kesedihan luar biasa ketika difitnah serong. Kesedihan yang beliau rasakan merupakan ujian yang Allah berikan kepadanya untuk menambah pahala dan mengangkat derajat beliau. Allah berfirman, “...Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu...” (QS. An-Nuur: 11)
Akan tetapi seorang hamba justru tidak dibenarkan meminta atau mengharap kesedihan dan mengira bahwa hal itu merupakan sebuah ibadah yang diperintahkan, diridhai atau disyariatkan Allah untuk hamba-Nya. Sebab, jika memang semua itu dibenarkan dan diperintahkan Allah, pastilah Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam akan menjadi orang pertama yang akan mengisi seluruh waktu hidupnya dengan kesedihan-kesedihan dan akan menghabiskannya dengan kegundahan-kegundahan. Dan hal seperti itu jelas sangat tidak mungkin. Karena, sebagaimana kita ketahui, hati beliau selalu lapang dan wajahnya selalu dihiasi senyuman, hatinya selalu diliputi keridhaan, dan perjalanan hidupnya selalu dihiasi dengan kegembiraan (lihat Al-Qarni, 2006: 49-50)
Menyibukkan diri dalam kegiatan yang positif
”Bunuhlah setiap waktu kosong dengan 'pisau' kesibukan! Dengan cara itu, dokter-dokter dunia akan berani menjamin bahwa Anda telah mencapai 50% dari kebahagiaan. Lihatlah para petani, nelayan, dan para kuli bangunan! Mereka dengan ceria mendendangkan lagu-lagu seperti burung-burung di alam bebas. Mereka tidak seperti Anda yang tidur di atas ranjang empuk, tetapi selalu gelisah dan menyeka air mata kesedihan” (Al-Qarni, 2006: 15)
Jadilah orang yang bermanfaat untuk orang lain
Bukankah Nabi r telah memberitahu kita bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain? Beliau telah berkata benar, karena beliau adalah Ash-Shadiqul Mashduq (yang berkata benar dan yang dibenarkan).
“Kebutuhan orang lain kepada diri Anda adalah sebuah nikmat, maka jangan pernah bosan menghadapinya, karena bisa berakibat berbalik menjadi bencana. Ketahuilah, bahwa yang terbaik dari hari-hari Anda adalah ketika Anda menjadi tujuan, dan bukan Anda yang menuju orang lain” (Al-Qarni, 2006: 531)
Menyikapi masa lalu, masa kini, dan masa depan
Dalam benak kita, selalu terbayang tentang tiga fase kehidupan, yaitu masa lalu, masa kini, dan masa mendatang. Menyikapi fase-fase itu merupakan kemampuan yang layak untuk dimiliki bagi orang yang ingin bahagia.
“Jika Anda harus mengingat masa lalu, maka ingatlah masa lalumu yang indah agar Anda gembira. Jika Anda mengingat hari ini, maka ingatlah apa yang telah Anda hasilkan, pasti Anda akan merasa gembira. Dan jika Anda melihat hari esok, maka ingatlah mimpi-mimpi Anda yang indah agar Anda optimis” (Al-Qarni, 2006: 550)
Dr. ‘Aidh Al Qarni, (2006: 254) telah banyak mengkaji banyak buku tentang kecemasan dan gangguan mental dari berbagai bacaan. Semuanya sepakat pada tiga pokok yang harus ditempuh oleh orang yang menginginginkan kesembuhan dan terhindar dari gangguan mental, serta hatinya menjadi lapang. Tiga pokok tersebut adalah:
Selalu mengaitkan hati kepada Allah, menyembah-Nya, taat dan berserah diri kepada-Nya.
Menutup berkas-berkas masa lalu dengan semua kegetirannya dan genangan air matanya, semua kesedihannya dan bencananya, semua kepahitan dan keresahannya. Dan, memulai sebuah kehidupan baru dengan hari yang baru pula.
Membiarkan masa depan yang masih gaib itu, tidak melarutkan diri di dalamnya, dan menjauhkan diri dari segala bentuk ramalan, prakiraan, dan ketidakjelasan. Tapi, hidup dalam lingkup hari ini saja.
Abdullah bin Abdul Aziz Al-‘Aidan (2008: 58-59) menyebutkan dua sikap yang hanya akan memberikan pengaruh yang negatif yaitu pertama, membolik-balik lembaran-lembaran masa lalu, mengingat-ingat kembali peristiwa-peristiwa yang memilukan, kegelisahan, kesedihan dan seterusnya. Dan kedua, memikirkan masa depan, dengan membayangkan segala kemungkinan yang bisa terjadi dari berbagai kejadian dan masalah, lalu ia pun mulai merasakan ketakutan, kegelisahan, kekalutan, dan kepedihan, padahal semua itu belum terjadi sama sekali!
Beliau –Abdullah bin Abdul Aziz Al-‘Aidan— memberikan sikap bijak untuk menyikapi masa lampau, masa kini dan masa mendatang, yaitu:
Untuk masa lampau, cukuplah kita mengambil pengalaman dan pelajaran dari setiap peristiwa dan kejadian, lalu segera menutup file-file yang menyedihkan dan melipat lembaran-lembaran suram.
Untuk masa mendatang, maka ia adalah rencana yang matang, persiapan sebaik mungkin, disertai musyawarah, istikharah dan isti’anah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar seseorang tidak terjerumus dalam kesalahan yang akan menjadi penyesalan semata.
Untuk masa kini, maka ia adalah medan yang harus menjadi curahan perhatian dan konsentrasi, dengan memanfaatkan semua yang bisa dimanfaatkan...tiap jamnya, tiap menitnya, tiap detiknya, karena itulah yang ada di tangan kita saat ini. Sebaik apa kita bisa memfungsikan masa kini, maka sebaik itu pulalah kita memersiapkan masa mendatang, dengan izin dan bimbingan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Untuk menatap masa depan, saya sarankan untuk mengikuti pembahasannya dalam “Jangan Takut Menatap Masa Depan” oleh Abdul Aziz bin Abdullah al-Husaini (Pustaka At-Tazkia).
Be yourself!
”Hiduplah sebagaimana Anda diciptakan; jangan mengubah suara, menganti intonasinya, dan jangan pula merubah cara berjalan Anda! Tuntunlah diri Anda dengan wahyu Ilahi, tetapi juga jangan melupakan kondisi Anda dan membunuh kemerdekaan Anda sendiri” (Al-Qarni, 2006: 16)
Dari uraian di atas, dapat kita bedakan antara plagiat dengan ittiba’ (mengikuti petunjuk Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam). Di antara keduanya terdapat perbedaan yang besar. Pelaku plagiat mencontoh 100 % apa yang ada pada tokoh yang digandrunginya. Sedangkan pada ittiba’, pelakunya meneladani apa yang menjadi tuntunan Ilahi dan tidak melupakan apa yang telah menjadi potensi dirinya.
”Setiap manusia memiliki kelebihan, potensi dan bakat masing-masing. Dan, salah satu keagungan Rasulullah adalah kemampuannya untuk menempatkan setiap sahabatnya sesuai dengan kemampuan, bakat, dan kesiapan mereka masing-masing. Ali misalnya, ditempatkan pada posisi kehakiman, Mu'adz dalam masalah keilmuan, Ubay yang menyangkut al-Qur'an, Zaid dalam masalah Faraidh, Khalid ibn Walid dalam persoalan jihad, Hassan dalam masalah syair, dan Qais ibn Tsabit dalam orasi.” (Al-Qarni, 2006: 115)
Jangan bersedih karena Anda adalah orang yang beriman
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS. An-Nahl: 97)
Jangan bersedih karena Anda tidak dalam keadaan bermaksiat kepada-Nya
”Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta" (QS. Thaha: 124).
Berbahagialah sekarang, Jangan tunggu besok ataupun lusa
“Orang yang menangguhkan kebahagiaan hingga anaknya yang hilang kembali, samapi rumahnya dibangun, dan hingga mendapatkan pekerjaan yang sesuai, maka ia tertipu oleh fatamorgana dan terperdaya oleh mimpi-mimpi di siang bolong” (Al-Qarni, 2006: 559)
Carilah pekerjaan yang sesuai dengan minat
Ibnu Taimiyyah pernah berkata, “Saya pernah jatuh sakit. Dokter yang mengobatiku berkata, ‘Membaca dan memberi ceramah ilmiah akan membuat sakitmu lebih parah.’ Saya katakan kepadanya, ‘(Tapi) saya tidak tahan untuk menghentikannya. Sekarang saya akan mengkritisi ilmu Anda sendiri, bukankah ketika jiwa bahagia dan gembira, badan menjadi lebih kuat dan tidak mudah terserang penyakit?’ Jawabnya, ‘Ya memang.’ Lalu saya katakan lagi kepadanya, ‘Akan halnya dengan jiwaku mendapatkan kegembiraan dengan ilmu, dan karenanya tubuh saya menjadi kuat. Saya mendapatkan kebahagiaan di situ.’ Jawabnya, ‘(Tapi) ini di luar kemampuan pengobatan kami’.” (Al-Qarni, 2006: 437)
Mengapa Sahabat Rasulullah Berbahagia?
Pola hidup sederhana dan tidak memaksakan diri.
Ilmu mereka luas, penuh berkah, dan praktis. Ilmu mereka bukan retorika belaka dan amat jelas—tidak berbelit-belit.
Bagi mereka, amalan hati jauh lebih berat daripada ibadah fisik.
Mereka sengaja mengurangi kenikmatan dunia.
Mereka menempatkan jihad sebagai amalan di atas amalan yang lain (lihat Al-Qarni, 2006: 182-183)
SELEBRITIS MASUK SURGA? BISA!

Akhir-akhir ini masyarakat kita banyak dimanjakan dengan banyaknya ajang-ajang lomba sebagai batu loncatan untuk jadi orang beken alias selebritis. Konon, ajang ini digelar untuk menyalurkan hobi dan bakat-bakat terpendam, khususnya yang dimiliki para remaja, bahkan anak-anak dan balita. Yang bukan lagi remaja atau ABG juga diberi kesempatan. Ada sebuah stasiun televisi swasta yang berbaik hati menggelar ajang untuk orang tua duet bareng anaknya.
Ajang lomba yang ditawarkan juga bermacam-macam. Dari kontes kecantikan putri-putrian, menyanyi, lawak, model dan segudang kontes lain. Tak jarang, bila sudah kebelet ingin menjadi artis, orang memakai jasa agency, atau mendatangi produsen dan sutradara serta mau berpose apa saja, buka-bukaan memperlihatkan aurat hingga rela tak dibayar asal bisa diorbitkan jadi artis. Usai itu bersiaplah ia menapak jalan gemerlap, dunia selebritis yang penuh keindahan semu.
“Dan dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan pada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Ali Imran: 14)
NABI BERNAMA SELEBRITIS
Masyarakat kita saat ini tengah mengalami ancaman dekadensi moral secara besar-besaran. Tak cuma informasi yang buruk, dunia hiburan pun ikut menjadi alat perusak moral. Apalagi yang disuguhkan media saat ini selain hanya propaganda dunia selebritis? Informasi dan dunia hiburan tak lagi memberikan sesuatu yang bisa mendidik dan menghibur masyarakat secara sehat, tapi justru memberi pengaruh sebaliknya.
Berawal dari sini dunia hiburan (baca: selebritis) menjelma sebagai nabi baru. Segala sesuatu yang ada pada diri mereka jadi panutan. Begitu mudahnya masyarakat kita meniru mereka. Kita bisa menyaksikan begitu besar dan hebatnya pengaruh selebritis di kalangan generasi muda. Hingga tatkala sang selebritis manggung, mereka rela antri dan berdesak-desakan berjam-jam serta mengeluarkan uang yang tak sedikit. Mereka histeris, berteriak bahkan menangis atau pingsan, jika bisa menyaksikan sang idola di depan mata. Sungguh kepuasan semu yang hanya memberikan kerugian belaka, baik itu secara materi, waktu juga tenaga. Tak lebih.
Pemujaan dan pengidolaan terhadap para selebritis juga banyak terjadi tanpa mengindahkan sisi moral sang selebritis. Sementara pihak-pihak tertentu melihat peluang menggiurkan dengan menjadikan sang seleb yang tengah naik daun untuk menjadi ikon bagi produknya. Misalnya dengan menjadikannya model iklan produk tertentu, sehingga otomatis produk itu akan laris manis di pasaran dan menjadi tren di masyarakat. Muncullah peniruan besar-besaran terhadap sang idola. Dari gaya bicara, cara berpakaian, model rambut, gaya hidup dan sebagainya tanpa mengindahkan pantas tidaknya hal tersebut, dan tanpa menimbang syar’i atau tidak.
Bisa dibayangkan betapa hebatnya pengaruh selebritis, padahal banyak dari mereka yang berkiblat pada dunia barat. Tapi, siapa yang peduli? Sementara banyak dari masyarakat kita yang hanya berpikir instant akibat pengaruh media global yang tak bertanggungjawab. Mereka terus diiming-imingi mimpi ini dan itu, hingga berkeinginan agar bisa seperti artis idolanya dan kalau perlu ikut terjun jadi selebritis.
Fenomena memuja dan mengidolakan selebritis ini akan terus berkesinambungan dengan munculnya kemerosotan moral! Sungguh suatu kenyataan yang menyakitkan. Nabi baru bernama selebritis begitu memesona banyak jiwa. Para penggemarnya dibuat lalai dari mengingat Allah, jatuh bangun dan lupa diri. Na’udzubillah.
SISI GELAP DUNIA SELEBRITIS
Secara naluri, siapa yang tidak tertarik dengan materi dan glamournya hidup yang bisa diperoleh dan dinikmati dari dunia selebritis? Jangankan kita, orang awam dengan modal agama yang pas-pasan. Yang katanya ustadz dan da’i saja, yang tentunya pengetahuan syariatnya lebih dari kita, ikut-ikutan terjun jadi selebritis.
Mereka ikut “ngartis”, main sinetron juga nyanyi! Saking semangatnya, katanya sih untuk melebarkan dakwah. Pak ustadz ini memproduksi filmnya sendiri hingga dibela-belain membuat rumah produksi. Begitulah, dunia selebritas dan pundi-pundi materi juga ketenarannya bisa memerangkap siapa saja, meski mereka tahu atau pura-pura tidak tahu bnayak penyelewengan syariat dalam dunia selebritis.
Gemerlapnya dunia selebritis memang hebat dan meninggalkan kesan wah bagi para pemuja dunia. Tak heran mereka yang terlanjur terbelenggu iming-iming dunia tak peduli bahwa dunia artis secara langsung ataupun tidak langsung ikut ambil bagian dan turut bertanggung jawab dari banyaknya kebobrokan moral.
Kita ambil contoh, akting yang dilakukan artis dalam film atau sinetron hanyalah pura-pura dan bohong. Namun bisa memancing emosi penonton hingga tergerak menirunya. Misal adegan kriminal, korupsi, perkosaan, adegan seks dan gaya hidup bebas lain. Tak mustahil, sedikit demi sedikit “didikan” dari dunia pura-pura ini direalisasikan dalam kehidupan nyata.
Langkah lebih jauh, dunia akting bukan saja bisa mempengaruhi sikap dan gaya hidup seseorang, bahkan bisa mempengaruhi idiologi bahkan keyakinan seseorang.
Contoh lain adalah iklan yang dibintangi artis terkenal, bisa memancing sikap konsumtif dan menumbuhkan rasa tak percaya diri. Hingga kita mengeluarkan uang untuk hal tak perlu dan berlebihan (israf) dalam pengeluaran. Padahal Rasulullah melarang kita bersikap israf dan mengekor begitu saja pada suatu kaum. Sikap-sikap seperti ini bisa memancing frustasi, rasa serba kurang, minder, tidak puas dengan apa yang dimiliki serta selalu kompetitif dalam hal negatif. Karenanya hendaknya kita bertakwa dan berpikir dewasa hingga kita tentram dan tak resah.
“Barangsiapa bertakwa pada Allah akan dijadikan semua perkaranya menjadi mudah.” (Ath-Thalaq: 4)
Dunia artis adalah dunia yang glamour. Yang tak kuat akan terjebak di dalamnya, sebab di sanalah berpusat segala kebobrokan moral. Penyalahgunaan obat terlarang, free sex, minuman keras dan penyelewengan terhadap berbagai norma agama yang lain. Sebagai sosok yang dipenuhi materi, seorang selebritis memang bisa melakukan apa saja dengan materi yang dimilikinya. Maka apa jadinya jika sosok bobrok seperti ini dijadikan idola. Bisa ditebak, kebobrokan moral makin merajalela karena masyarakat berguru pada orang yang salah.
Gaya busana yang tak lagi memenuhi syarat syar’i, wanita-wanita telanjang ataupun setengah telanjang banyak kita temui dalam dunia artis. Aurat dibiarkan terbuka hingga dengan leluasa menjadi santapan mata-mata penuh nafsu. Harga diri dan rasa malu tak lagi berharga dan diobral murah. Mereka seolah tak takut pada sangsi Allah. Dalam haditsnya Rasulullah n bersabda,
“Siapa pun wanita yang melepaskan pakaiannya (menampakkan auratnya) bukan di rumahnya sendiri, maka Allah akan merobek tirai kehormatannya (tidak ada penyelamat baginya).” (Riwayat Ahmad, At-Tabrani, dan Al-Hakim)
Selain itu, dalam dunia artis juga banyak terjadi tabarruj dan ikhtilat, pacaran serta hubungan bebas di luar nikah. Para selebritis tanpa beban dan malu berpelukan atau berciuman dengan lawan jenis di depan umum. Zina sudah sangat dianggap hal biasa dalam dunia selebritis. Hal-hal ini jelas menyimpang dari syari’at. Rasulullah bersabda,
“Sesungguhnya (bila) salah seorang di antaramu ditikam dari kepalanya dengan jarum dari besi, adalah lebih baik daripada menyentuh seseorang yang bukan muhrimnya.” (Riwayat Tabrani)
“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu sesuatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk.” (Al-Israa’: 32)
Dalam dunia artis pun, agama dijadikan olok-olok dan diselewengkan. Banyak film mistis yang di dalamnya menampilkan sosok ulama, di sisi lain film yang sama ada adegan umbar aurat dan sosok mbah dukun. Belum lagi sosok si artis yang tanpa beban membuka jilbab. Hal ini sangat menyakitkan, tak peduli meski ia mengaku sudah menyandang predikat haji.
Masih banyak lagi penyimpangan dan pelecehan yang terjadi dalam dunia selebritis. Uraian di atas hanyalah sebagian kecil. Belum lagi efek-efek negatif yang ditimbulkan dari maraknya dunia selebritis terhadap si artis sendiri ataupun masyarakat. Ditambah lagi konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan selebritis di akhirat kelak. Bukankah telah ada ancaman bagi wanita pelaku maksiat yang suka berlenggak lenggok dan pamer aurat, bahwa mereka akan diadzab dan tidak akan mencium baunya surga? Jadi, masihkah menjadi seorang selebritis jadi impian?
SELEBRITIS MASUK SURGA
Yang ini baru berita gembira dan luar biasa. Selebritis masuk surga! Itu bukan hal mustahil dan syaratnya pun mudah. Asal mereka taubat nasuha dan meninggalkan profesi itu. Dan selanjutnya tentunya segera memperbaiki diri dan memperbaiki kualitas ketakwaan dengan belajar agama serta meninggalkan hal-hal yang dilarang syariat.
Tak hanya selebritis, siapa pun bisa masuk surga asal terpenuhi syarat-syaratnya. Persiapkan diri dari sekarang sebelum terlambat untuk meraih jannah-Nya. Sebelum maut menjemput, sebelum dunia digoncangkan dan langit digulung, kesempatan itu masih selalu ada. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan menyegerakan diri dalam ampunan-Nya.
(Ummu Nabhan)
http://majalah-nikah.com/
